Laman

Tampilkan postingan dengan label Coretan Kisahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan Kisahku. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 November 2014

Ketika Si Gagap Bicara

Serasa menjadi Si Gagap yang terbata ketika bicara, saya keder habis-habisan mengelola blog ini. Berangkat dari Bonek alias Bondho Nekat, tak tahu apa itu blog, seluk-beluknya, celah dan lebihnya. Hanya tahu saya butuh "sesuatu" untuk menumpahkan uneg-uneg saya yang kadang "goes wild", meliar sembarangan. Alhasil, beginilah yang terjadi. Saya jadi seperti orang gagap yang mencoba berpidato di panggung. Sekuat apapun mencoba untuk lancar, tak mungkin bisa lancar bicara dalam waktu singkat.
Sempat desperated dan "mutung" nggak ngeblog lagi, nggak nulis lagi, akhirnya ya kangen juga. ^_^
Setelah sekian lama vakum dan menutup telinga setiap kali ada yang tanya kenapa nggak nulis lagi. Mengubur mimpi saya dalam-dalam. Toh juga akhirnya bisul nggak mungkin nggak meletus. Hihihi.
Dan lagi, bila mengingat King George VI yang gagap saja mampu jadi raja yang pidatonya dirindukan setiap rakyatnya selama perang dunia, saya jadi bermimpi bahwa saya juga bisa mengatasi kegagapan saya dalam menulis dan mengelola blog ini. Bismillah, BISA.
# sedang menggali lebih dalam lagi untuk membuat blog saya lebih cantik. ^_^ Ada yang mau bantuuuuu????? Please....... @_@ wajah memelas.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Pada Suatu Siang, Antara Kemarau dan Hujan



June 6, 2013 at 1:18pm

"Bersabarlah!" Ujar Sang Hujan, ia tengah asyik bermain-main, bersama anak-anak kecil, menggertak cerpelai dan burung-burung kecil di tepi hutan.
Sang Kemarau duduk menunggu dengan bosan, di sudut cakrawala.
"Tapi kau sudah terlalu lama menghabiskan waktu kerjaku." Sahut Sang Kemarau.
Hujan tersenyum, melambaikan tangan pada adiknya, Pelangi yang cantik, dan bidadari itu menyapukan kuas berwarna-warni di angkasa.
"Saudaraku Kemarau yang baik hati." Hujan mendekati sahabat karibnya. "Tidakkah kau ingat, saudaraku, pada ribuan tahun lalu, ketika kau protes pada Sang Penguasa Langit dan Bumi, atas jatah kerja 40 hari yang Ia berikan padaku semasa Ia memerintahkanku untuk menenggelamkan negeri Nabi Nuh?"
Kemarau terdiam.
"Lantas, Ia memberimu overtime tujuh tahun di era pemerintahan Nabi Yusuf. Tujuh tahun, saudaraku; dan aku setia menunggu."
"Maka kini, Kemarau, sahabat baikku. Relakanlah aku barang setahun dua tahun bermain-main di seluruh penjuru bumi. Beristirahatlah. Kumpulkan tenagamu. Karena yakinlah, sahabatku, kelak kau akan jauh lebih lama menghabiskan masa kerjamu di dunia ini. Karena warna bumi telah pudar, tak lagi hijau dan biru."
Selesai berbicara, Hujan kembali memutari dunia. Menyelesaikan titahnya. Dan Kemarau tersenyum lega, lalu berkata: "Wahai dunia, tunggu saja! Aku akan datang, setelah titik air hujan penghabisan."
~Singgahan, 06062013 ~

Senin, 10 Juni 2013

PERMINTAAN



Sarmin menggenggam erat lembaran biru di tangannya. Dengan tergopoh ia bergegas mengambil sepeda kumbang yang disandarkannya di bawah pohon Sengon di tepi sawah. Lima puluh ribu itu, hasil perasan keringatnya seharian. Lima puluh ribu yang akan ia berikan pada Beki, anak ketiganya, untuk bekal ke sekolah esok.
“Kata petugas tata usaha uang BSMku sudah habis Pak, ndak bisa gratis lagi buku LKSnya.” Terngiang kata-kata anaknya pagi tadi, ketika ia baru saja meraih piring berisi nasi dan sambal korek yang disodorkan istrinya.
Segera Sarmin menggenjot sepeda kumbangnya. Pulang. Untuk segera menyerahkan uang itu pada anak lelaki satu-satunya yang masih sekolah. Dua kakaknya telah mengadu nasib di Jakarta. Kuli batu, tak lebih baik dari pekerjaan bapak mereka yang buruh tani, cuma baiknya mereka tidak menanggung hidup siapa-siapa. Sarmin hanya menuntut mereka untuk mencari bekal masa depan, tak ingin membebani mereka dengan kebutuhan pendidikan adik-adik dan belanja ibu mereka yang sesungguhnya terasa melelahkan bagi Sarmin.
“Pak, kalau bisa duitnya besok sudah dibayar, Beki malu ditagih terus sama pegawai koperasi.” Rengek anak remajanya teringat kembali. Dan pagi itu Sarmin muntab, tanpa sadar ia mengumpat dan mencecar anaknya dengan amarah karena merasa usahanya membanting tulang tak dihargai.
Kowe wis  gedhe. Seharusnya sudah bisa mikir. Masmu dulu sekolah Cuma lulus SD. Kamu bisa sekolah sampai SMP seharusnya bisa bersyukur. Bisamu cuma menuntut saja.” Dan omelan itu berlanjut, terus, sampai ia berangkat ke sawah.
Sarmin menggenjot sepedanya lebih kencang, beberapa puluh meter lagi sampai ke rumah mungilnya yang kian terlihat condong ke kiri karena sebagian bambu penyangganya telah lapuk. Rumahnya yang entah telah berapa tahun tak pernah dicat ulang, apalagi direnovasi. Dinding anyaman bambu yang dahulu berwarna putih itu koyak di beberapa bagian. Sarmin semakin semangat menggenjot sepedanya.
Ia menyandarkan sepeda begitu saja pada sebuah bangku kuno di teras rumah, satu-satunya peninggalan orang tuanya yang masih tersisa selain sepeda kumbangnya. Yang lain telah habis terjual untuk berbagai kebutuhan, termasuk sawah dan ternak. Sarmin segera masuk ke dalam rumah yang tak tertutup. Sepi. Ia memanggil nama istrinya, lalu anak ketiga, keempat, kelima, dan keenam, semua telah dipanggilnya. Tak ada sahutan.
Tangannya meraba saku. Uang lima puluh ribu itu masih di sana. Senyumnya mengembang. Kali ini Beki pasti bisa tersenyum lega dan membayar buku LKSnya dengan bangga. Tanpa mengangsur. Sekaligus uang itu menjadi tanda permintaan maafnya pada anak lelaki ketiganya itu atas omelannya tadi pagi.
“Min, kamu sudah pulang?” Lantang suara Yu Siyem, kakak iparnya, yang tinggal di rumah sebelah. Belum sempat Sarmin menjawab, ketika perempuan itu menyeruak masuk ke dalam rumah, terengah-engah. “Beki, dibawa ke puskesmas. Mendem. Habis nenggak obat pari.”
Perempuan itu berhenti di tengah ruangan, terhuyung oleh tubrukan badan Sarmin yang berlari tergesa keluar dan menyambar sepedanya. Lembaran biru di sakunya tak dipedulikannya lagi.

Glosarium:
BSM: Bantuan Siswa Miskin
LKS: Lembar Kerja Siswa
Sambal korek: sambal yang terbuat dari cabai, terasi dan garam, dengan edikit perasan jeruk nipis
Muntab (Jawa): marah
Kowe wis gedhe (Jawa): kamu sudah besar
Mendem (Jawa): mabuk, keracunan
Nenggak (Jawa, kasar): minum
Obat pari: sebutan untuk pestisida dan sejenisnya yang digunakan pada tanaman padi

Senin, 27 Mei 2013

PURI MERPATI


“Pada akhirnya; kau akan memahami bahwa ada hati yang tak dapat dimiliki, sekeras apapun mencoba mengejarnya. Dan ada hati yang sekuat tenaga ingin kau singkirkan dan sakiti, namun ia tak jua pergi dari hidup kita. Itulah yang dinamakan jodoh. Ia hadir dalam bentuk yang kadang tidak kau inginkan. Tapi percayalah, ialah sebaik-baik yang dikirimkan Tuhan bagi hidup dan matimu. Titah yang harus kau jalani. Sepenuh jiwa raga.”
“Berhentilah meracau!” Bentakku.
Wanita itu menoleh ke arahku. Namanya Puri Merpati. Ia gila, setidaknya begitulah kata orang. Mereka bilang ia dahulu seorang bintang panggung. Seorang pemain ketoprak idola banyak lelaki.Ia bak putri yang dipuja. Lalu menikah dengan seorang pangeran tampan kaya raya. Namun lelaki itu ternyata hanya membuatnya sakit hati dan gila.
Ia tinggal di bilik kecil di belakang rumahku. Entah sejak kapan.
“Makanlah, kusuapi.” Kataku, datar, seperti biasa.
Ia tersenyum, tapi tampak seperti menyeringai bagiku. Kupandang wajahnya, masih pucat bak vampire. Matanya pun masih selayu kemarin, bibirnya kering seperti telah bertahun-tahun tak menyentuh air.
Ia kembali berpuisi, mengulangi kata-katanya tadi. Pelan-pelan kusuapkan nasi berlauk ikan bawal goreng ke mulutnya. Kadang kurasa ia tak gila. Kata-katanya tak pernah hadir tanpa makna bagiku. Ia seperti sangat memahami kegundahanku. Termasuk kegelisahanku karena Hanun menolak lamaranku.
“Ba... Gus...” Ia mengeja namaku. Aku memandangnya. Mulutnya seperti hendak mengatakan sesuatu.
“Makanlah saja.” Ujarku.  Aku tak ingin mendengar kata-katanya lagi. Sudah cukup buatku melihatnya terengah bersuara.
Nafasnya selalu terlihat tersengal saat berbicara. Mungkin ia mengidap penyakit paru atau sejenisnya. Atau bisa juga itu akibat kebiasaan tidurnya yang sangat sedikit. Selama ia tinggal di belakang rumahku, sejauh yang kuingat, hanya sekitar dua-tiga jam tak terdengar aktivitas dari bilik kecil di sebelah gudang itu, yang bermakna ia sedang tidur.
Aku segera keluar dari bilik itu setelah selesai memberinya makan dan membersihkan badannya. “Kau sudah selesai?” Tanya ayah yang telah menunggu di teras samping rumah. Dua cangkir kopi, sekaleng biskuit, dan koran di atas meja. Aku hanya mengangguk seraya mendekatinya.
“Kau tak kan bisa menikah bila ia terus ada di sini.” Kalimat Ayah terasa dingin. Kontras dengan kopi panas yang baru saja mengaliri tenggorokanku.
“Aku akan terus mengurusnya walaupun semua gadis yang kucintai tak dapat menerimanya.” Kataku. Air mataku nyaris mengalir.
“Kau terlalu peduli padanya.” Ujar Ayah, masih sedingin sebelumnya.
Terang saja, kata hatiku. Karena ia adalah ibuku.

Selasa, 21 Mei 2013

Mendung di Suatu Pagi



Lihatlah, langitpun mendung. Seperti ikut berkabung atas matinya satu cinta dalam dua hati yang lelah saling menopang di atas terjal jalan berduri. Cinta antara engkau dan dia.
Lihatlah, engkau pun lelah. Penat berjalan sekian tahun tanpa kejelasan. Digantung dalam batas jurang antara cinta dan benci yang kini semakin terlihat samar oleh kelam. Nanar matamu menatap jalanan di depan yang semakin gelap oleh pekatnya mendung. Kemudian hujan pun mulai turun. Menderas. Mengguyur hatimu yang semula telah dingin, kini membeku.
Pukul setengah sepuluh pagi, namun kau rasa seperti subuh hari. Matahari sembunyi entah ke mana. Mendung menciptakan kelam. Hatimu pun suram. Meskipun memang telah lama benda di dalam dadamu itu tak lagi disinari cinta. Diam-diam kau menyukuri turunnya hujan yang menutupi air mata yang tak berhenti meleleh di pipimu yang ranum memerah oleh hawa dingin. Kulit putihmu semakin terlihat pucat dan berkerut tergerus air.
“Umurku tak panjang, Nis. Bersabarlah sebentar.” Kalimat itu telah bertahun-tahun menemanimu. Dan kata maut yang ia lantunkan dalam setiap pintanya itu tak jua terwujud meski telah beribu kali pula kau aminkan. Dan kau semakin lelah menunggu. Dengan hati yang setiap hari disakiti. Dengan teriakan, celaan, hinaan. Hatimu semakin membenci, namun juga tak bisa berhenti mencintai.
“Biarkan aku pergi!” Katamu suatu hari.
“Tidak, aku tak bisa!” Jawabnya.
“Perlukah aku membunuhmu? Aku lelah disakiti!” Matamu dingin menatapnya. Seperti tak pernah ada cinta berbinar di sana.
Ia diam. Tak menjawabmu. Tak jua beranjak dari hadapanmu. Sampai beberapa jam kemudian ia tetap diam terduduk di depanmu yang berbaring tak bergerak di atas ranjang. Memar dan lebam di mata kirimu. Sekujur kulit putihmu ternoda beberapa bagiannya oleh luka yang ia ciptakan dalam kemarahan. Beberapa kali ia menggumamkan kata-kata yang kau tak ingin pahami maknanya. Air mata mengalir tanpa kau minta, seperti ia tak kan habis terkuras.
Hari itu masih terus terkenang, dan terulang. Cambuk, tampar, pukul, dera, cela, umpat, berlanjut. Dan hatimu semakin ingin berontak, namun jasadmu tetap terdiam disisinya seperti terikat pada suatu sumpah yang tak boleh kau langgar.
Kadang orang bertanya, untuk apa kau lakukan semua itu. Bukankah telah sekian lama ia dan perempuan lain yang dicintainya merenggut kehidupan ceriamu? Dan kau hanya diam, hanya air mata yang menjawab tanya mereka.
“Kau mengidap Syndroma Stockholm!” Ujarku suatu hari, bertahun-tahun yang lalu, ketika pertama kali kubertemu denganmu. Dan kau hanya tersenyum, meski jelas terlihat ada getir membayang dalam senyum itu.
Hujan semakin deras. Kau masih berjalan di setapak yang kini berlumpur. Langit berangsur memutih setelah memuntahkan jutaan galon air dalam kantung awan yang tadi pekat terlihat dari permukaan bumi yang kau pijak. Kau terus berjalan, entah hendak kemana.
Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Mengusik dedahanan di tepian setapak yang kau lewati. Kau terus berjalan. Tatap matamu kosong. Yang meleleh di pipimu itu, entah air mata atau hujan, aku tak tahu. Kulit putihmu semakin memucat. Terlihat kau mulai menyilangkan tanganmu di depan dada pertanda dingin telah menggerus ketegaran yang kau pamerkan sedari tadi.
“Anissa!” Teriakku ketika sedahan angsana jatuh hampir mengenaimu. Kau berhenti, menengok, mencari asal suara yang memanggilmu.
Tenggorokanku tercekat. Aku menahan nafas, sembunyikan wajahku di tepi bejana. Seperti maling yang hampir saja ketahuan mencuri di rumah majikannya. Konyolnya, jelas-jelas kutahu kau takkan mampu melihatku. Matamu nanar membelalak, mencari asal suaraku. Aku terdiam dan terus memandangmu dari tempatku berada.
Aku menanti kau mengatakan sesuatu setelah mendengar suaraku. Matamu terlihat memerah, semerah pipimu yang terpapar dingin bercampur amarah. Namun kau kembali terdiam, menyilangkan tanganmu di depan dada, dan berjalan. Ke arah mana, aku tak tahu.
“Sayang, kamu di mana?” Suaranya terdengar memanggil.
“Aku sudah mencari Anissa ke sekitar rumah, tapi tak ketemu!” Suaranya setengah berteriak. Ia ada di ruang tamu. Langkahnya terdengar mendekat ke kamar.
      “Sialan! Ia benar-benar membuatku kesal. Beraninya ia melarikan diri. Dasar perempuan tak tahu diuntung. Sudah berbaik hati aku masih menampungnya di sini. Kalau aku mau, sudah bertahun-tahun yang lalu kuceraikan dan kuusir perempuan cengeng sialan itu!”
“Apa kekuatan cenayangmu betul-betul telah hilang? Sampai-sampai kau tak mampu melihat ke mana ia pergi.”
Kalimat-kalimatnya meluncur berganti-ganti. Aku hanya terdiam. Menutup bejana yang berisi bayanganmu, dan mematikan lilin agar hilang mantraku. Pergilah, Anissa. Pergilah yang jauh. Bebaskan dirimu dari belenggu cintamu. Darinya yang selama bertahun-tahun menyiksamu. Juga dariku, perempuan lain itu.