Laman

Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Agustus 2013

Jangan Percaya Pada Penyair




Jangan mudah percaya
Bila seorang penyair berpuisi tentang cinta
Apalagi berbunga-bunga mempercayainya
Siapa tahu ia sedang bercerita
Tentang saudara, tetangga, mungkin juga sinetron dan berita gosip yang ditontonnya

Jangan mudah tertipu
Saat seorang penyair sedang menuliskan sajak sendu
Apalagi membawamu menangis tersedu
Siapa tahu ia sedang menuliskan kisah
Tentang sahabat, sejawat, bisa juga orang lewat

Kan kerja penyair memang
Menggugah rasa rindu dan sayang
Membuat bulu roma meremang
Atau air mata di pelupuk mata mereka yang jadi terkenang
Orang orang tersayang

Karena itu, saudaraku
Nikmatilah syairnya saat ia berlagu
Boleh kau ingat dalam kenangan
Namun ingat: jangan jadikan penilaian
Apalagi penghakiman

Karena puisi adalah misteri*
Maka segala interpretasi bisa terjadi
Asal jangan menjustifikasi
Kemudian membuat berita tak mengenakkan hati

Ingat saudaraku: jangan percaya pada penyair
Termasuk isi ini syair

28.08.2013>> 21:13
*dikutip dari pernyataan Umma Azura

Demi Sesuatu yang Kau Sebut Cinta




Mengapa selalu bilang: “Sebentar lagi kau akan sangat membenciku”
Bukankah kau sangat tahu: Sejak dulu aku telah membencimu
Sejak kau cabik hatiku dengan penghianatan tanpa malu
Tapi kau juga sangat tahu: Selalu cintaku lebih besar dari benciku padamu

Salahmu
Jadikan aku perempuan paling bahagia di dunia dengan berjuang di sampingku
Salahmu
Jadikan aku berhutang budi dengan bertahan hidup denganku
Salahmu
Tak mampu tinggalkan aku
Demi dia dan angan bahagia bersamanya
Salah terbesarmu: Masih mencintaiku

Salahku
Tak berani beranjak karena takut kehilangan tempat berpijak
Salahku
Berdosa padamu di masa itu
Salahku
Tak tega mengusirmu dari hatiku

Lalu  bila kau tanya apa mauku
Jangan marah bila kujawab: Aku mau kau pergi jauh
Lenyap lesap bersama asap
Musnah dalam buncah gelombang pasang
Atau terbang bersama burung layang-layang

Jangan kecewa bila kurasa: Kita tak lagi tercipta untuk bersama
Maka pergilah: Demi sesuatu yang kau sebut cinta
Dan berbahagialah: Semoga kau bisa

28.08.2013>> 09:27

(Dudu) Gurit Tresna



(Dudu) Gurit Tresna
July 12, 2013 at 2:12am
Borok iki nggetih maneh. Dhadhak'e akeh.
Nganti klepeh.
Apa kowe ora ngerti, aku uga duwe ati?
Apa kowe ora eling, biyen aku tansah mbok liling?

Sayangmu jebul palsu
Tresna amung gurit tanpa makna
Njur ngapa ora mbok lilakna, yen aku kudu
lunga?

Wis cukup tekan kene wae
Sliramu kudu tak tinggalke
Tinimbang atiku tansah kelara-lara
Aluwung aku lunga ijen, nggudhak impen kang
biyen kelalen

Singgahan, ing awal wulan Pasa

(Bukan) Puisi Cinta
Luka ini kembali berdarah. Banyak darah. Hingga basah.
Apa kau tak mengerti, aku pun punya hati?
Apa kau tak mengenang, dulu aku selalu kau sayang?

Sayangmu ternyata palsu
Cinta hanya puisi tak bermakna
Lantas mengapa kau tak rela hati, bila aku harus pergi?

Tlah cukup sampai di sini
Aku harus pergi
Bila hati terus tersakiti
Eloknya pergi sendiri saja, mengejar mimpi yang dulu terlupa

Singgahan, awal bulan Ramadhan


Sabtu, 03 Agustus 2013

Ramadan Ini

Dulu
Semasa aku masih belajar mengeja huruf dan angka
Hanya ada satu dua rumah di kampungku yang punya televisi
Hanya ada satu stasiun yang dinikmati
Tak ada acara pembangun sahur dan pengantar berbuka
Namun Ramadan sungguh khidmat terasa

Bila menjelang saat berbuka
Anak-anak kecil ramai mengaji
Menantikan adzan dalam untai doa dan abata yang terbata
Sungguh nikmat ketika maghrib menjelang

Bila waktu tarawih tiba
Berjejal-jejal kami dalam sempitnya ruang musolla
Gemerutuk bunyi dengkul dan kaki silih berganti
Mengikuti gerak imam di depan kami
Musolla hanya separo lapangan volley
Tapi tak pernah sepi setiap hari

Bila tarawih usai
Yang terdengar hanya gaung tadarus
Di corong toa kecil yang hanya terdengar beberapa ratus meter saja
Suara yang lengking jadi serak karena toa musolla sudah tua
Hingga tengah malam masih terdengar remaja-remaja bergantian membaca Alquran
Aduhai tentramnya

Lalu ramai-ramai kami pulang
Mengambil bekal sahur seadanya
Kemudian kembali ke musolla
Tak lupa sarung dan bantal dibawa serta
Ya... Kami tidur di musolla
Besar - kecil
Kanak - remaja
Walau tak pernah benar-benar lelap tertidur di sana
Karena terlalu girang hendak berkeliling membangunkan sahur

Dan ketika waktunya tiba
Beramai-ramai kami beriring
Memukul kentongan dan apa saja
Membangunkan seisi kampung di sekitar musolla
Membawa obor dari bambu atau pelepah pepaya
Sungguh asyik rasanya

Selepas Subuh
Kami mengaji di bawah temaram lampu petromax
Karena listrik diesel hanya menyala sampai jam 12 malam saja
Mengaji sampai matahari nampak di cakrawala
Ah... Betapa syahdunya

Ramadan ini
Tahun ke sekian kami menikmati indahnya teknologi
Malam terang benderang
Musolla kami telah beberapa kali direnovasi
Kini jadi seluas dua lapangan volley
Toa musolla kami kini besar dan lantang
Kampung kami ramai oleh suara televisi
Dan deru motor silih berganti
Masjid desa pun bertingkat dua
Besar dan indah bangunannya
Seperti puri seribu satu malam saja

Mirisnya
Semakin lama
Semakin sepi masjid dan musolla kami
Apalagi di sepuluh hari terakhir Ramadan
Barisan tarawih tinggal dua tiga saf jarang-jarang
Masih untung tak menuruti imam yang perintahkan rapatkan barisan
Bila menurut
Barisan pun semakin mengkerut

Semakin sepi amil zakat dari para dermawan
Karena orang kaya lebih suka membagi zakat mal di depan rumah mewah mereka
Dalam sorotan kamera dan publikasi media
Tak urus berapa korban masuk rumak sakit
Bahkan adayang sampai meninggal terjepit
Semakin ramai berita
Semakin untung karena bisa terkenal
Dengan menyantuni keluarga yang ditinggalkan si korban

Bila waktu sahur dan berbuka
Ramai-ramai keluarga
Menghadap televisi di rumahnya
Tergelak bersama para pelawak
Menyaksikan goyang dan jargon ciptaan mereka
Beberapa mencibir dan berkata:
"Bulan Ramadan kok diajak guyonan dan ikut undian"
Tapi tetap tak pindah saluran
Karena diam-diam mengirim sms ke tujuh dua sekian sekian


Katanya
Ini pertanda
Semakin makmur dunia
Buktinya
Semakin dekat hari raya
Semakin ramai orang berbelanja
Katanya juga
Ini pertanda
Kiamat semakit dekat
Buktinya
Makin banyak orang melarat
Padahal mall dan supermarket semakin padat

Adakah memang ini gerusan jaman?
Ataukah memang pertanda melemahnya iman?
Lantas
Masihkah aku pantas menyebut diriku beriman?

~ Singgahan, 03/08/2013. 22.18. Tadarus sudah bubar tepat jam sepuluh malam. Yang terdengar hanya gelak tawa di warung kopi, dan suara Raden Kian Santang di televisi.

Jumat, 19 Juli 2013

TENTANG "MEREKA"

Tak habis pikir aku
Pada ulah para plagiat
Berseliweran di dunia maya
Mencari mangsa
Mirip kecoa saja
Sampai status facebook orang pun dibajaknya
Apalagi karya indah penulis ternama
Makanan utamanya

Aduuuuhhhh
Sudah kehabisan kata?
Atau memang tak berkarunia?
Kepala menganga menadah saja
Melahap habis ide dan karya
Lantas memakainya
Menjualnya tanpa merasa berdosa

Buat apa?
Ingin terkenal tanpa modal?
Ingin kaya tanpa banyak kerja?
Ingin menang dan bersenang-senang?
Tanpa karya
Tanpa usaha
Tanpa cipta
Taunya pakai saja

Memangnya tulisan itu baju?
Bisa dicontek model dan bahannya?
Sedangkan meniru model pakaian saja
Mesti beli dulu bahannya
Rogoh saku keluar uang
Baru bisa beli kain dan benang
Sedang mereka tenang-tenang
Taunya comot saja tiada gamang

Aduuuuhhhhh
Kalau dekat
Sudah kubabat
Untung jauh
Maka kubiarkan utuh
Kalau aku Tukul
Sudah kusobek-sobek mulut sampai ke dengkul
Untung aku diriku
Terlalu imut dan unyu untuk meninju

Plagiat Oh Plagiat
Kata orang tlah panjang riwayat
Sejak jaman Shakespeare
Sampai jaman Britney Spears
Masih juga mereka hidup
Nafas orang lain dihirup
Sudah begitu
Tak pula tahu malu
Ahaiiii.... Jadi gemas aku
Ingin kutinju
Biar copot giginya yang palsu

Senin, 25 Februari 2013

SHADOW

Why should we wander across the ocean?
Just to find the shadow of our soul
While the sun doesn't yet shining
And the moon had went over the lining

Why should we hang our heart up on the heaven?
Just to realize that there is no way to hold
Better we say this isn't the feeling
Which our heart have been dreaming

Why should tears soaking our eyes?
While rainbow's still dressing the cloud
Where it thaws the snow drops
Therewith our thirst had gone out
When these heart find it place and lays

Oh, thee sad-less heart we should have
Come and sing along with me
Where the dew is condensing the meadow
And birds are chirping their joy you see

Why don't we let the sunshine drifting the shadow?
And let the moon take it in her nightly journey
Why don't we let the wind has our dream to blow?
And we too follow wherever it will be
'Cause we are merely just shadow






KEMUNING




Bila kau cium wangi itu, kekasih
Wangi yang menggoda hasratmu menyentuhnya
Mengundang anganmu melukisnya
Memaksa matamu menikmati putihnya
Menjauhlah
Sebelum kau semakin tergoda

Jangan kau coba sentuh, kekasih
Hanya akan lukai kuntumnya
Musnahkan indahnya
Berhentilah
Sebelum kau kehilangan dia

Ia putih dan cantik
Kita sama-sama mengerti
Ia harum dan molek
Akupun pahami
Ia menggoda indera
Aku sangat pahami

Tahan
Perlahan
Maka nikmatnya abadi buatmu
Sampai pada waktu ia gugur layu
Setelah penuhi janjinya padamu
Yakni, berikan suci harumnya
Putih rekahnya
Hanya padamu
Itulah yang kita sebut
Cinta

Sabtu, 23 Februari 2013

SAFAR KALA SUBUH



Semburat jingga terbit di ufuk
Awan menyangga bayang rembulan
Melengkung tipis bak alis sang bidadari
Perpaduan aroma menebar jagat desa

Harumnya
Asap tungku
Kembang jagung
Sambal urap
Kenanga
Kotoran sapi di pagi hari

Dimana dikotamu kau bertemu alam seramah dusunku?
Adakah disana bukit-bukit menyangga pelangi?
Seperti di tempat ini?
Dapatkah kau nikmati kerlip bintang malam tadi di tengah gemerlap lampumu?
Adakah atap kotamu terhampar luas layaknya langit kami?

Aku tak pernah ke kota
Tertawalah
Tapi kau tak bisa bernafas lega disana
Dan aku terus berseru
Ayo, pulang ke desa!
-otw fr0m MU 2 Jojogan, chilling 0n d bike-